PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Latar belakang
disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh
guru pengajar. Makalah ini membahas tentang Pemanasan global atau global
warming. Makalah ini disusun berdasarkan tentang perbincangan yang sedang
hangat dibicarakan oleh dunia. Pemanasan global belum menemukan titik terang
dalam penanggulangannya. Disini penulis berusaha menerangkan materi yang
dibutuhkan sebagai referensi agar dapat menyempurnakan topik yang akan
diperbincangkan.
Pemanasan global adalah suatu keadaan dimana suhu di
permukaan bumi menjadi lebih panas dibanding suhu normal. Pemanasan global
hanya sebuah wacana sekitar sepuluh tahun yang lalu. Akan tetapi, sekarang
pemanasan global adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi oleh seluruh umat manusia.
Sudah banyak fakta-fakta yang menunjukkan bahwa pemanasan global telah terjadi.
Diantaranya banyaknya beruang kutub yang mati kelaparan di kutub utara, hal ini
terjadi dikarenakan menipisnya lapisan es sehingga mengakibatkan mereka
kesulitan mencari makanan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak beruang kutub
yang tidak memiliki cukup banyak lapisan lemak tubuh untuk bertahan hidup.
Selain itu, Suku Inuit juga telah melihat banyaknya bongkahan-bongkahan es
besar bahkan gunung es menghilang secara tiba-tiba. Akan tetapi, hal yang tak
kalah mengerikan adalah terjadinya berbagai bencana alam di seluruh bagian
bumi.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka timbul masalah:
1. Apakah pemanasan global itu?
1. Apakah pemanasan global itu?
2. Apakah
penyebab pemanasan global itu?
3. Apakah akibat
dari pemanasan global itu?
4.Bagaimana cara
mengatasi pemanasan global ?
5. Apa
organisasi internasional yang perduli dengan pemanasan global ?
3. Tujuan
·
Agar kita bisa memperehatikan
keadaan lingkungan kita
·
Menambah pengetahuan tentang
pemanasan global
·
Mengetahui cara pencegahan pemanasan
global
·
Agar menjadi motivasi
untuk menjaga dan menumbuhkan rasa cintanya terhadap alam semesta ini.
·
Menciptakan Lingkungan hidup yang
lestari
·
Membudidayakan menanam
pohon tumbuhan
·
Meminimalkan dampak
pemanasan global
PEMBAHASAN
1.
Pengertian pemanasan
global
Pemanasan global adalah adanya proses
peningkatan suhu
rata-rata atmosfer,
laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata
global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C selama seratus
tahun terakhir. Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan
temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas
rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek
rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan
ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang
dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek
IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0
hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu
dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas
rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang
berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama
lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini
mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan
menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut,
meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan
pola presipitasi.
Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian,
hilangnya gletser,
dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para
ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa
depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut
akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih
terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan
yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut
atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian
besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi
Protokol
Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
2.
Penyebab pemanasan
global
1. Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari.
Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya
tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya
menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian
panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah
gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di
atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas
rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida,
dan metana yang
menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan
kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut
akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan
mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana
kaca dalam rumah
kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer,
semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk
hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin.
Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih
panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca[3]
(tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan
Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di
atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
2. Efek umpan balik
Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh
berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada
penguapan air. Pada
kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan
pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke
atmosfer. Karena uap
air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan
menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan
konsentrasi uap air.
3. Radiasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan
kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi
dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan
akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer
sebaliknya efek rumah kaca
akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah
paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,[8]
yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama
pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan
ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan
tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena radiasi Matahari
dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek
pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan
sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari
mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University
mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%
peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar
25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model
iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek
gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga
mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga
telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan
dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun,
sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini
disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
3.Akibat
pemanasan global
Akibat Terhadap Alam
Iklim Mulai Tidak Stabil
Selama pemanasan global, daerah bagian utama dari belahan bumi utara
akan memanas lebih dari daerah-daerah lain. Akibatnya gunung-gunung es akan
mencair Musim tnam akan lebih panjang di beberapa area. Suhu pada musim dingin
dan malam hari akan cendrung meningkat. Daerah hangat akan menjadi lembab
karena lebih banayak air yang menguap dari lautan. Kelembapan yang tinggi akan
meningkatkan cuaca hujan. Badai akan menjadi lebih sering, air akan lebih cepat
menguap dari tanah yang akan dapat mengakibatkan beberapa daerah menjadi
kering. Selain itu juga, angin akan bertiup kencang dan cuaca menjadi tidak
terprediksi dan lebih ekstrim.
Peningkatan Permukan Laut
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan laut juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikan permukaan laut.
Tinggi permukaan laut diseluruh dunia telah meningkat 10-25cm (9-10 inchi)
selama abad ke 20 dan ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9-88cm
(4-35inchi) pada abad ke 21. Perubahan tinggi laut akan sangat mempengaruhi
kehidupan di daerah pantai dan dapat menenggewlamkan beberapa negara.
Suhu Global Cendrung
Meningkat
Bagian selatan kanada, sebagai contoh mungkin akan mendapat keuntungan
dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Dilain pihak,
lahan pertanian ropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat
tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung
yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang
berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak musim
bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan
serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Gangguan Ekologi
Hewan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghidari dari efek
pemanasan ini, karena sebagaian besar lahan telah dikuasai oleh manusia. Dalam
pemanasan global, henwan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas
pegunungan. Tumbuhan akan mengubah
arah
pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu
hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini.
Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau ke selatan yang terhalangi oleh
kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies
yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Akibat terhadap Sosial dan
Budaya
Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya
penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas dan nkematian. Temperatur yang
panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan
malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrim dan peningkatan permukaan air laut
akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit yang dengan
bencana alam (banjir, badai, dan kebakaran) dan kematian akibat trauma.
Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke
tempat-tempat pengungsian, dimana sering muncul penyakit diare, malnutrisi,
difisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit
melalui air. Seperti meningkatnya kejadian demam berdarah karena munculnya
ruang (ekosistem) baru untuk berkembangbiak. Dengan adanya perubahan iklim ini,
maka munculah spesies vektor penyakit (eq. Aedes Agipty). Virus, bakteri,
plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang targetnya adalah
organisme tersebut.
Selain itu bisa diprediksi bahwa ada beberapa spesies yang akan punah
karena perubahan ekosistem. Gradasi lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran
limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan
vektor-vektor diseases. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas
pabrik yang tidak terkontrol, akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit
saluran pernapasan, seperti asma, alergi, coccidiodomicosys, penyakit jantung
dan paru kronis, dan lain-lain.
Jadilah
Vegetarian
Memproduksi daging sarat CO2 dan metana dan membutuhkan banyak air. Hewan ternak seperti sapi atau kambing merupakan penghasil terbesar metana saat mereka mencerna makanan mereka. Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%). Lebih lanjut, dalam laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”, 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2). Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan “Kick The Habit”, 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2! Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk mengurangi makan daging.
Tanam Pohon
`Satu pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 kg CO2 per tahunnya. Dalam seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap 1 ton CO2. United Nations Environment
Memproduksi daging sarat CO2 dan metana dan membutuhkan banyak air. Hewan ternak seperti sapi atau kambing merupakan penghasil terbesar metana saat mereka mencerna makanan mereka. Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%). Lebih lanjut, dalam laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”, 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2). Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan “Kick The Habit”, 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2! Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk mengurangi makan daging.
Tanam Pohon
`Satu pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 kg CO2 per tahunnya. Dalam seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap 1 ton CO2. United Nations Environment
Programme
(UNEP) melaporkan bahwa pembabatan hutan menyumbang 20% emisi gas rumah kaca.
Seperti kita ketahui, pohon menyerap karbon yang ada dalam atmosfer. Bila
mereka ditebang atau dibakar, karbon yang pernah mereka serap sebagian besar
justru akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Maka, pikir seribu kali sebelum
menebang pohon di sekitar Anda. Pembabatan hutan juga berkaitan dengan
peternakan. Tahukah Anda area hutan hujan seukuran 1 lapangan sepak bola setiap
menitnya ditebang untuk lahan merumput ternak? Bila Anda berubah menjadi
seorang vegetarian, Anda dapat menyelamatkan 1 ha pohon per tahunnya.
Bepergian yang Ramah Lingkungan
Cobalah untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2. Bila jaraknya dekat dan tidak terburu waktu, anda bisa memilih kereta api daripada pesawat. Menurut IPCC, bepergian dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca.
Kurangi Belanja
Industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil. Jenis industri yang membutuhkan banyak bahan bakar fosil sebagai contohnya besi, baja, bahan-bahan kimia, pupuk, semen, gelas, keramik, dan kertas. Oleh karena itu, jangan cepat membuang barang, lalu membeli yang baru. Setiap proses produksi barang menyumbang CO2.
Beli Makanan Organik
Tanah organik menangkap dan menyimpan CO2 lebih besar dari pertanian konvensional. The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara organik dapat mengurangi 26% CO2 yang disumbang oleh pertanian.
Bepergian yang Ramah Lingkungan
Cobalah untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2. Bila jaraknya dekat dan tidak terburu waktu, anda bisa memilih kereta api daripada pesawat. Menurut IPCC, bepergian dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca.
Kurangi Belanja
Industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil. Jenis industri yang membutuhkan banyak bahan bakar fosil sebagai contohnya besi, baja, bahan-bahan kimia, pupuk, semen, gelas, keramik, dan kertas. Oleh karena itu, jangan cepat membuang barang, lalu membeli yang baru. Setiap proses produksi barang menyumbang CO2.
Beli Makanan Organik
Tanah organik menangkap dan menyimpan CO2 lebih besar dari pertanian konvensional. The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara organik dapat mengurangi 26% CO2 yang disumbang oleh pertanian.
Gunakan
Lampu Hemat Energi
Bila Anda mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat
Bila Anda mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat
menghemat
400 kg CO2 dan lampu hemat energi 10 kali lebih tahan lama daripada lampu pijar
biasa.
Gunakan Kipas Angin
AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr CO2 per jamnya. Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin.
Jemur Pakaian Anda di bawah Sinar Matahari
Bila Anda menggunakan alat pengering, Anda mengeluarkan 3 kg CO2. Menjemur pakaian secara alami jauh lebih baik: pakaian Anda lebih awet dan energi yang dipakai tidak menyebabkan polusi udara.
Daur Ulang Sampah Organik
Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal dari sisa makanan, kertas, daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini!
Pisahkan Sampah Kertas, Plastik, dan Kaleng agar Dapat Didaur Ulang
Mendaur ulang aluminium dapat menghemat 90% energi yang dibutuhkan untuk memproduksi kaleng aluminium yang baru – menghemat 9 kg CO2 per kilogram aluminium! Untuk 1 kg plastik yang didaur ulang, Anda menghemat 1,5 kg CO2, untuk 1 kg kertas yang didaur ulang, Anda menghemat 900 kg CO2.
Gunakan Kipas Angin
AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr CO2 per jamnya. Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin.
Jemur Pakaian Anda di bawah Sinar Matahari
Bila Anda menggunakan alat pengering, Anda mengeluarkan 3 kg CO2. Menjemur pakaian secara alami jauh lebih baik: pakaian Anda lebih awet dan energi yang dipakai tidak menyebabkan polusi udara.
Daur Ulang Sampah Organik
Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal dari sisa makanan, kertas, daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini!
Pisahkan Sampah Kertas, Plastik, dan Kaleng agar Dapat Didaur Ulang
Mendaur ulang aluminium dapat menghemat 90% energi yang dibutuhkan untuk memproduksi kaleng aluminium yang baru – menghemat 9 kg CO2 per kilogram aluminium! Untuk 1 kg plastik yang didaur ulang, Anda menghemat 1,5 kg CO2, untuk 1 kg kertas yang didaur ulang, Anda menghemat 900 kg CO2.
5.
Organisasi yang peduli terhadap pemanasan global
*World Wide Fund for Nature (WWF) adalah sebuah organisasi
non-pemerintah internasional yang menangani masalah-masalah tentang konservasi,
penelitian dan restorasi lingkungan, dulunya bernama World Wildlife Fund dan masih
menjadi nama resmi di Kanada dan Amerika Serikat. WWF adalah organisasi
konservasi independen terbesar di dunia dengan lebih dari 5 juta pendukung di
seluruh dunia yang bekerja di lebih dari 100 negara, mendukung sekitar 1.300[4]
proyek konservasi dan lingkungan. WWF adalah sebuah yayasan[5] yang
pada tahun 2010 mendapatkan 57% pendanaannya dari pihak perorangan dan warisan,
17% dari sumber-sumber internasional (seperti Bank Dunia, DFID, USAID) dan 11%
dari berbagai perusahaan
*Greenpeace
adalah suatu organisasi lingkungan global yang didirikan di Vancouver,British
Columbia, Kanada pada 1971. Greenpeace dikenal menggunakan aksi langsungtanpa
kekerasan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk
menghentikanpengujian nuklir angkasa dan bawah tanah, begitu juga dengan
kampanye menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pada tahun-tahun
berikutanya, fokus organisasi mengarah ke isu lingkungan lainnya, seperti
penggunaan pukat ikan, pemanasan global, danrekayasa genetika. Greenpeace
mempunyai kantor regional dan nasional pada 41 negara-negara di seluruh dunia,
yang semuanya berhubungan dengan pusat Greenpeace Internasional di Amsterdam.
Organisasi global ini menerima pendanaan melalui kontribusi langsung dari
individu yang diperkirakan mencapai 2,8 juta para pendukung keuangan, dan juga
dari dana dari yayasan amal, tetapi tidak menerima pendanaan dari pemerintah
atau korporasi
*BirdLife International (dulu bernama International Council for Bird Preservation) adalah
organisasi konservasi international yang bergiat dengan keterlibatan masyarakat
untuk melindungi semua jenis burung di dunia dan habitatnya. Organisasi ini
adalah federasi konservasi global dengan jaringan internasional lebih dari 100
rekan organisasi, termasuk Burung Indonesia, RSPB, Gibraltar Ornithological
& Natural History Society (GONHS), National Audubon Society, Bombay
Natural History Society, Birds Australia, Royal Forest and Bird Protection
Society of New Zealand, Nature Seychelles, Malaysian Nature Society, dan
BirdWatch Ireland.BirdLife International didirikan pada tahun 1922 oleh
ahli ornithologi Amerika, T. Gilbert Pearson dan Jean Theodore Delacoure dengan
nama International Council for Bird preservation
*World Meteorological Organization (WMO) adalah sebuah organisasi antarpemerintah dengan keanggotaan 188 Negara
dan Teritori Anggota. Berasal dari International
Meteorological Organization (IMO), yang didirikan tahun 1873. Dibentuk
tahun 1950, WMO menjadi badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk
meteorologi (cuaca dan iklim), hidrologi dan geofisika. Memiliki kantor pusat
di Jenewa, Swiss. Presidennya Alexander Bedritsky dan Sekretaris Jenderalnya
Michel Jarraud. Bulan Juni 1976, dalam tanggapan terhadap laporan pers yang
memprediksikan peristiwa seperti Zaman Es Kecil, Organisasi Meteorologi
mengeluarkan peringatan bahwa pemanasan iklim global yang signifikan dapat
menyebabkan zaman es.
*Konservasi Dunia PBB
Program Lingkungan yang Monitoring Centre (UNEP-WCMC) adalah
lembaga eksekutif Program Lingkungan PBB , yang berbasis di Cambridge di
Inggris . UNEP-WCMC telah menjadi bagian dari UNEP sejak tahun 2000, dan
memiliki tanggung jawab untuk keanekaragaman hayati penilaian dan dukungan
untuk pengembangan kebijakan dan implementasi. [1] The World
Conservation Pusat Pemantauan sebelumnya sebuah organisasi independen yang
dikelola bersama oleh IUCN, UNEP dan WWF didirikan pada tahun 1988, dan sebelum
itu Pusat itu merupakan bagian dari Sekretariat IUCN.Wilayah Kerjanya
Kegiatan UNEP-WCMC termasuk keanekaragaman hayati penilaian, dukungan terhadap konvensi internasional seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) dan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES), peningkatan kapasitas dan manajemen kedua aspatial dan data spasial pada spesies dan habitat yang menjadi perhatian konservasi. UNEP-WCMC memiliki mandat untuk memfasilitasi pengiriman indikator global di bawah CBD 2010 Target Keanekaragaman Hayati pada laju kehilangan keanekaragaman hayati, dan bekerja bersama Sekretariat CITES memproduksi berbagai laporan dan database. Ini juga mengelola Database Dunia Kawasan Lindung bekerjasama dengan IUCN Komisi Dunia untuk Kawasan Lindung. Serangkaian atlas dunia pada topik keanekaragaman hayati telah dipublikasikan oleh UNEP-WCMC melalui University of California Press . UNEP-WCMC itu sendiri terdiri dari beberapa Program yang peduli dengan sektor konservasi yang berbeda:. Keanekaragaman Hayati Informatika, Bisnis dan Keanekaragaman Hayati; Perubahan Iklim; Ecosystem Assessment, Ketahanan Pangan, Biomassa dan Keanekaragaman Hayati; Kelautan dan Dukungan Keputusan; Kawasan Lindung; dan Spesies
PENUTUP
Kesimpulan
Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata
atmosfir, laut dan daratan bumi. Penyebab terbesar pemanasan global adalah efek
gas-gas rumah kaca akibat aktifitas manusia melalui efek rumah kaca. Pemanasan
global sangat berdampak negatif bagi alam semesta ini, seperti naiknya
permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,
perubahan jumlah dan pola presipitasi, berpengaruhnya hasil pertanian,
hilangnya gletser, punahnya berbagai jenis hewan dan munculnya berbagai
penyakit.
Pemanasan global hanya dapat dikendalikan dengan cara
mengatasi efek yang ditimbulkan sambil melakukan langkah-langkah pencegahan,
diantaranya: menghilangkan karbondioksida di atmosfir dengan cara menanam dan
memelihara pepohonan lebih banyak lagi dan mengurangi produksi gas rumah kaca.
SARAN
Kehidupan ini berawal dari kehidupan di bumi jauh sebelum makhluk hidup ada. Maka dari itu untuk menjaga dan melestarikan bumi ini harus beberapa dekade kah kita memikirkannya. Sampai pada satu sisi dimana bumi ini telah tua dan memohon agar kita menjaga serta melstarikannya. Marilah kita bergotong royang untuk menyelematkan bumi yang telah memberikan kita kehidupan yang sempurna ini. Stop global warming.
Kehidupan ini berawal dari kehidupan di bumi jauh sebelum makhluk hidup ada. Maka dari itu untuk menjaga dan melestarikan bumi ini harus beberapa dekade kah kita memikirkannya. Sampai pada satu sisi dimana bumi ini telah tua dan memohon agar kita menjaga serta melstarikannya. Marilah kita bergotong royang untuk menyelematkan bumi yang telah memberikan kita kehidupan yang sempurna ini. Stop global warming.
0 komentar:
Posting Komentar